Viral! Kasus Kejahatan Mirip Hipnotis, Pakar Hipno Buka Suara, Begini Penangkalnya

Instruktur Nasional : Adit ujuk kebolehan saat menjdi pengajar di kota Malang 2019 lalu. (foto: Ist)

SAMARINDA, PROKALTIM- Menanggapi pemberitaan yang santer beredar tentang pengungkapan kasus penipuan dengan modus kejahatan mirip hipnotis, menggunakan media batu merah delima, beberapa waktu lalu, Prokaltim.com terhubung dengan salah satu praktisi hipnosis dan hipnoterapis, Aditya Lesmana, Kamis (14/4).

Adit yang juga merupakan anggota Perkumpulan Komunitas Hipnotis Indonesia, yakni organisasi profesi mitra dari Kementrian Kesehatan RI ini menjelaskan perlunya edukasi tentang hipnosis secara umum dan penggunaan frase “Komplotan Hipnotis” atau “Kejahatan Hipnotis” secara khusus.

“Hipnotis adalah orang yang menggunakan keahlian hipnosis, biasanya disematkan kepada orang yang berprofesi didunia hiburan, seperti kang Ferdian yang sering dijumpai di televisi itu bisa disebut hipnotis, ini perlu masyarakat tahu,”ungkapnya.

Hipnosis sendiri adalah kondisi mental tertentu (keadaan hampir tidur) di gelombang otak Alpha dan/atau Theta, memiliki pengertian lain tertembusnya faktor kritis sehingga orang tersebut menjadi reseptif (mudah menerima sugesti).

Penembusan pikiran bawah sadar disini, lanjutnya tak hanya bisa dilakukan dengan hipnosis, ada banyak cara, sebagian kecilnya:

1. Figur otoritas

Orang yang memiliki otoritas tinggi cenderung gampang memengaruhi orang lain, sehingga ucapannya diterima oleh akal dan perasaan seseorang. contohnha guru, tokoh agama, tokoh masyarakat, komandan, atasan, orang tua dan lainny.

Baca juga  Cegah Bahaya Kebakaran, Disdamkar Inspeksi Tiap Rumah, Libatkan RT dan Lurah

2. Repetisi atau pengulangan

Sesuatu yang diulang sangat bisa memengaruhi seseorang, contoh iklan di Tv yang berulang-ulang.

3. Emosi intens

Ini yang sering dilakukan penipu atau penjahat, memanfaatkan perasaan atau emosi, misal emosi kesian dan emosi tamak.

“Timbul pertanyaan, kok bisa hal tersebut bisa memengaruhi orang lain? Bayangin, ada orang datang bawa anak kecil, mukanya sedih, katanya mau pulang kampung tidak ada ongkos, kita pun akan terpengaruh dengan mudah, uang kita bisa kita berikan semua, untuk orang tertentu yang sangat sugestif bisa sangat tidak masuk akal dalam memberi, sesaat orang diduga penipu itu pergi baru ‘tersadar’ kalau yang dilakukan itu salah, karena harta habis terkuras,” bebernya.

Juru hipnotis sendiri sudah masuk dan diakui oleh negara melalui Badan Nasional Sertifikasi Negara (BNSP), jadi penggunaan “Komplotan Hipnotis” sangat tidak elok dan tak tepat dalam penggunaan dalam sebuah kalimat.

“Harus ditelisik lebih dalam lagi, ini hanya penipuan biasa, dalam kasus yang viral ini saya menganalisa korban dan pelaku sama-sama kenal, dan penuturan korban, dirinya kena hipnotis atau gendam ini yang harus saya jelaskan, proses hipnosis harus ada persetujuan antar dua orang, pengguna atau si hipnotisnya dan si subjek atau yang di hipnosis, jika itu salah satunya tidak bersedia maka tidak aka terjadi proses hipnosis”terang adit melalui sambungan telepon.

Baca juga  Pemkot Beri Bantuan Korban Kebakaran di Gunung Bugis

Adit juga menjelaskan cara untuk menghindari kejahatan mirip hipnosis ini, yaitu dengan cara selalu skeptis dan kritis kepada orang asing bahkan ke orang yang dikenal, agar tidak terkena bujuk rayu orang tersebut, apalagi budaya timur itu orangnya tidak enakkan, hilangkan itu semua demi keselamatan kita.

“Kita harus kritis, tanyakan ke diri apa benar orang ini saya , ketika ada orang yang sok kenal sok dekat namun kita tidak mengenalnya, kita bisa tanyakan nama panjang, alamat dan nama ibu kita sendiri, karena jika orang tersebut mengaku kenal, pasti dia tau, paling tidak tahu nama panjang kita, jika jawabannya tidak jelas, tinggalkan secepatnya, potong pembicaraan dan pergi amankan diri,”tambahnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, 4 komplotan penipu berhasil diamankan kepolisian lengkap beserta barang bukti yang digunakan pelaku saat beraksi, pada Selasa (12/4/2022) lalu. (psg/adl)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Share Berita

Berita Terkait

Ikuti Berita ProKaltim.com dari Media Sosial


Kaltim News

Pendaftaran Kolomnis Kaltimsiana