Site icon PROKALTIM

PLTA Batoq kelo 300 MW Resmi Dimulai, Proyek Energi Rp13 Triliun Dibangun di Mahakam Ulu

plta batoq kelo

Groundbreaking PLTA Batokelo 300 MW resmi dimulai di Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Proyek strategis nasional ini menelan investasi Rp13 triliun.

PROKALTIM.COM – Pemerintah resmi memulai pembangunan proyek strategis nasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batokelo berkapasitas 300 Megawatt (MW) di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Prosesi peletakan batu pertama atau groundbreaking dilakukan pada Selasa (26/5/2026) dan dipimpin langsung oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, bersama Gubernur Kalimantan Timur Rudi Mas’ud. Proyek ini digadang menjadi PLTA terbesar di provinsi tersebut sekaligus menjadi salah satu langkah besar pemerintah memperkuat transisi energi nasional berbasis energi terbarukan.

Pembangunan PLTA Batoq Kelo dilakukan di kawasan Batoq Kelo yang memanfaatkan aliran Sungai Boh yang terhubung langsung ke Sungai Mahakam sebagai sumber utama pembangkit listrik. Pemerintah menilai potensi energi air di wilayah pedalaman Kalimantan Timur sangat besar namun belum dimanfaatkan secara maksimal selama ini. Dengan kapasitas mencapai 300 MW, proyek tersebut diharapkan mampu menjadi tulang punggung pasokan listrik hijau untuk kawasan strategis di Kalimantan Timur dalam beberapa tahun ke depan.

PLTA Batoq Kelo akan menjadi salah satu PLTA terbesar yang dikembangkan di luar Pulau Jawa.

Pemerintah Targetkan Pemerataan Listrik Pedalaman

Dalam sambutannya, Hashim Djojohadikusumo menegaskan proyek PLTA Batokelo bukan hanya soal pembangunan pembangkit listrik, tetapi juga bagian dari strategi mempercepat kemandirian energi nasional berbasis sumber daya domestik. Pemerintah ingin mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus memperluas akses listrik hingga ke wilayah pedalaman atau remote area yang selama ini masih mengalami keterbatasan pasokan energi.

Selain menjadi proyek energi terbarukan, pembangunan PLTA Batoq Kelo juga diklaim akan mendorong pertumbuhan ekonomi baru di kawasan perbatasan Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Pemerintah memasukkan pembangunan jalan akses penghubung antarprovinsi sebagai bagian dari paket investasi proyek tersebut untuk mempercepat konektivitas kawasan terpencil.

Total investasi yang digelontorkan dalam proyek ini mencapai Rp13 triliun. Anggaran tersebut mencakup pembangunan bendungan, sistem pembangkit listrik, jaringan distribusi, hingga infrastruktur pendukung akses jalan menuju lokasi proyek yang berada di kawasan pedalaman Mahakam Ulu.

Target Rampung Lima Tahun

Pemerintah menargetkan pembangunan PLTA Batoq Kelo selesai dalam waktu lima tahun ke depan. Selama proses konstruksi berlangsung, proyek ini diperkirakan menyerap ribuan tenaga kerja dan membuka aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Gubernur Kalimantan Timur Rudi Mas’ud menyebut proyek tersebut menjadi simbol percepatan pembangunan kawasan pedalaman yang selama ini menghadapi keterbatasan infrastruktur dasar. Menurutnya, keberadaan PLTA Batoq Kelo juga dapat menjadi fondasi penting mendukung kebutuhan energi di Kalimantan, termasuk kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

Pemerintah berharap proyek energi berskala besar ini mampu memperkuat posisi Kalimantan Timur sebagai salah satu pusat energi hijau nasional di masa depan. Selain mendukung kebutuhan listrik domestik, keberadaan PLTA Batoq Kelo juga diproyeksikan menjadi bagian penting dalam strategi pengurangan emisi karbon nasional. (glen)

Exit mobile version