PROKALTIM.COM – Kebijakan ekspor satu pintu melalui BUMN untuk komoditas strategis mulai memunculkan gejolak di sektor perkebunan kelapa sawit Kalimantan Timur. Menjelang penerapan kebijakan pada 1 Juni 2026, harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit milik petani dilaporkan anjlok drastis hanya dalam hitungan hari. Kondisi tersebut membuat petani sawit di sejumlah daerah mulai khawatir karena penurunan harga terjadi bersamaan dengan pembatasan penerimaan buah sawit oleh beberapa pabrik kelapa sawit di Kaltim.
Data Apkasindo Kaltim menunjukkan harga TBS yang sebelumnya berada di kisaran Rp3.400 hingga Rp3.530 per kilogram kini turun menjadi Rp1.740 hingga Rp2.500 per kilogram. Penurunan tajam tersebut dinilai memberi tekanan besar bagi petani sawit swadaya yang selama ini bergantung pada stabilitas harga untuk menopang ekonomi keluarga.
Ketua DPW APKASINDO Kalimantan Timur, Betman Siahaan mengatakan kondisi di lapangan mulai memicu keresahan petani karena sejumlah perusahaan mulai membatasi bahkan menghentikan sementara penerimaan TBS dari petani mandiri. Menurutnya, situasi ini membuat posisi petani semakin lemah di tengah ketidakpastian pasar sawit nasional.
“Petani mulai panik karena harga turun sangat cepat dan ada pabrik yang mulai membatasi penerimaan buah sawit dari petani mandiri,” ujarnya.
Harga Sawit Turun Drastis, Petani Mulai Resah
Penurunan harga TBS disebut terjadi dalam waktu singkat setelah munculnya kebijakan ekspor satu pintu melalui BUMN. Petani khawatir kebijakan tersebut akan berdampak pada distribusi dan rantai perdagangan sawit di daerah, terutama bagi petani swadaya yang tidak memiliki akses langsung ke pasar besar.
Selain harga yang anjlok, antrean pengiriman buah sawit di beberapa pabrik juga mulai meningkat akibat pembatasan kuota penerimaan. Situasi itu membuat sebagian petani kesulitan menjual hasil panen mereka tepat waktu.
Betman menilai jika kondisi terus berlangsung tanpa intervensi pemerintah, maka dampaknya akan meluas terhadap ekonomi masyarakat di wilayah sentra perkebunan sawit Kalimantan Timur, termasuk daerah-daerah penyangga seperti Paser dan Penajam Paser Utara.
Apkasindo Minta Presiden Turun Tangan
APKASINDO Kaltim meminta Presiden Prabowo Subianto segera mengambil langkah untuk menjaga stabilitas harga sawit dan memastikan perusahaan tidak membeli TBS petani dengan harga murah secara sepihak. Menurut mereka, perlindungan terhadap petani swadaya harus menjadi prioritas di tengah perubahan kebijakan tata niaga ekspor sawit nasional.
“Kami berharap pemerintah pusat segera turun tangan agar harga sawit tidak semakin jatuh dan petani tidak dirugikan,” katanya.
Kebijakan ekspor satu pintu sendiri kini mulai menjadi perhatian besar di berbagai daerah penghasil sawit nasional karena dinilai berpotensi memengaruhi mekanisme pasar di tingkat lokal. Di Kalimantan Timur, sektor sawit masih menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat di berbagai wilayah perkebunan.
Petani berharap pemerintah segera memberikan kepastian mekanisme pembelian dan distribusi sawit agar tidak memicu kepanikan berkepanjangan. Mereka juga meminta pengawasan ketat terhadap perusahaan sawit untuk mencegah praktik pembelian TBS di bawah harga yang wajar. (nad)

