slot deposit pulsa
slot
slot pulsa
bola16
slot pulsa
slot
iboslot
slot pulsa
slot pulsa
slot gacor
rtp
slot gacor
Es Gabus Kembali Viral, Jejak Kuliner Tradisional yang Terdaftar di KBBI Press "Enter" to skip to content

Es Gabus Kembali Viral, Jejak Kuliner Tradisional yang Terdaftar di KBBI

PROKALTIM.COM – Es gabus kembali menjadi perbincangan publik setelah sebuah video yang menunjukkan jajanan itu viral di media sosial dan memicu kesalahpahaman soal bahan bakunya. Jajanan legendaris ini sejatinya bukan terbuat dari spons, melainkan merupakan salah satu bagian dari sejarah kuliner tradisional Indonesia yang kini telah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Popularitas es gabus sendiri sudah berlangsung lintas generasi. Pada era 1980-an hingga 1990-an, jajanan ini mudah ditemui di sekolah, pasar, dan di tangan para pedagang keliling. Tekstur khasnya yang kenyal dan warnanya cerah membuatnya menjadi favorit anak-anak hingga orang dewasa. Menurut jejak sejarah, es gabus diperkirakan telah ada sejak masa kolonial Belanda dan mencerminkan akulturasi budaya kuliner di Indonesia.

Masuknya istilah es gabus dalam KBBI menegaskan status jajanan ini sebagai bagian dari warisan kuliner Indonesia yang berakar kuat di masyarakat. Badan Bahasa Kemdikbudristek menyatakan bahwa es gabus adalah “jajanan legendaris yang warnanya ceria, rasanya manis, dan kenangannya melekat” serta terbuat dari bahan yang sederhana.

ES GABUS VIRAL 2 1 Es Gabus Kembali Viral, Jejak Kuliner Tradisional yang Terdaftar di KBBI PROKALTIM

Salah satu sumber kebingungan publik muncul dari tuduhan bahwa es gabus menggunakan spons sebagai bahan dasar, yang sempat tersebar lewat video viral di media sosial. Pandangan ini ternyata tidak sesuai fakta, karena es gabus dibuat dari tepung hunkwe, santan, dan gula, lalu dibekukan hingga menghasilkan tekstur khasnya. Nama “gabus” sendiri merujuk pada tekstur lembut dan berpori tersebut, bukan bahan spons.

Bahan utama pembuatan es gabus, tepung hunkwe, berasal dari pati kacang hijau dan sering dipadukan dengan pewarna makanan untuk memberi tampilan warna-warni pada jajanan ini. Varian rasa seperti pandan, cokelat, dan buah-buahan membuat es gabus tetap relevan dan menarik meski persaingan di pasar kuliner semakin ketat.

Kini, walaupun frekuensi penjualannya tidak sebanyak masa jayanya, es gabus tetap menjadi bagian dari nostalgia kuliner masyarakat urban dan tradisional. Jajanan ini menunjukkan bagaimana kudapan sederhana dapat bertahan dari waktu ke waktu dan tetap dikenal generasi baru, sekaligus memperkuat hubungan antara kuliner dan sejarah budaya Indonesia. (nad)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *