PROKALTIM.COM – Penggerebekan markas judol internasional di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, memunculkan dugaan baru terkait adanya pihak pelindung atau backing yang membantu operasional ratusan warga negara asing selama berada di Indonesia.
Analisis pakar siber dan mantan pimpinan PPATK Yunus Husein, menyebut jaringan ini tidak mungkin berjalan tanpa dukungan pihak tertentu, terutama terkait izin masuk, tempat operasi, hingga transaksi keuangan lintas negara.
Sebelumnya, aparat mengamankan 320 WNA dan satu WNI dalam operasi besar yang membongkar aktivitas judi online dan penipuan digital internasional. Kini penyelidikan mulai mengarah pada sosok pengendali utama atau beneficial owner yang diduga berada di luar Indonesia.
Beneficial Owner Diburu Lewat Transaksi
Yunus Husein mengatakan pola transaksi perbankan dan remitansi digital dapat menjadi pintu masuk untuk mengungkap aktor utama di balik jaringan tersebut.
“Kalau frekuensinya tinggi dan banyak menerima transaksi, kemungkinan besar dia pengendalinya,” ujar Yunus.
Menurutnya, PPATK memiliki kewenangan melakukan audit dan penelusuran terhadap transaksi lintas negara melalui sistem perbankan internasional. Polisi dan PPATK kini juga mendalami kemungkinan penggunaan aset kripto sebagai jalur utama perputaran dana sindikat.
Langkah ini dinilai penting untuk mengungkap aliran uang dan hubungan antara operator di Indonesia dengan pusat kendali di luar negeri.
Operator Diduga Hanya Pekerja Lapangan
Ketua Indonesia Cyber Security Forum Ardi Suteja menduga para WNA yang ditangkap hanyalah pekerja kasar atau frontliner yang menjalankan instruksi dari pihak lain. Ia menyebut target operasi sindikat bukan masyarakat Indonesia karena sebagian besar operator bahkan tidak menguasai bahasa Indonesia.
“Ini artinya bos besarnya mungkin tidak ada di Indonesia,” katanya.
Ardi juga menyoroti evolusi terbaru jaringan judi online Asia Tenggara yang kini memanfaatkan teknologi kripto dan teknik pengaburan identitas digital untuk menghindari pelacakan aparat.
Polisi saat ini terus melakukan audit forensik digital terhadap laptop dan ponsel yang disita guna membongkar jejak kontrol pusat dan kemungkinan adanya sponsor lokal yang membantu kelancaran operasional sindikat tersebut di Jakarta. (glen)

