30 Kali Di Ruda Paksa, Disekap dan Perhiasan Dijual

SAMARINDA, PROKALTIM- “Terbuai aku dalam mulut manismu, yang penuh dengan janji palsu, seakan semunya nyata” Penggalan lagu berjudul Gaun Merah ini mungkin dapat menggambarkan kisah pilu yang dialami gadis 19 tahun asal Kota Taman Bontang Kalimantan Timur.

Ini kisah Bulan –bukan nama sebenarnya–, waktu luang digunakan menyelami dunia maya (Dumay), berawal dari perkenalan melalui jejaring sosial Facebook, hingga berakhir terenggutnya mahkota kesucian diri.

“Baru pertama kali mengenal cinta,” ucapnya.

Alih-alih mendapatkan pria sebagai pelindung, Bulan malah mendapatkan perlakuan kasar oleh pria yang ia kenal melalui jejaring sosial Facebook.

Bulan, menceritakan kejadian tragis yang menimpanya secara terbuka, berawal dari dirinya berjumpa dengan pemuda bernama Patrik (22) — nama samaran–.

Jumat (10/6/2022) lalu, Bulan yang masih mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Kota Tepian Samarinda.

“Ya main Facebook aja kalau waktu luang,” sebutnya.

Tiba-tiba seorang pemuda berparas tampan mengirimkan pesan singkat melalui masegger Facebook yang berisikan ajakan untuk saling mengenal.

Obrolan singkat, dengan penuh keramahan, kesopanan didukung dengan wajah tampan Patrik berhasil mengalihkan dunia Bulan hingga berbunga-bunga sembari tersenyum sendiri.

Patrik mengaku berasal dari kota yang sama dengan Bulan hingga semakin yakinlah Bulan saat itu.

Singkat cerita, Patrik pun menyampaikan niat baiknya, untuk sekedar kopi darat (Kopdar) berjumpa langsung dengan Bulan dan mendatangi indekos Bulan yang berada di kawasan Kecamatan Samarinda Utara.

Baca juga  Larangan Mudik, Potensi Masyarakat Beralih Ke Mall, Polisi Lakukan Pengawasan Pada Sistem Buka Tutup di Mall

Bungkusan putih berisikan seporsi martabak lengkap dengan acar timun, dan sebuah mobil yang diakui miliknya disertai ungkapan bahwa dirinya merupakan putra orang berada di Kota Taman, menambah Bulan terpesona saat itu.

Wajah yang tampan, kendaraan serta tahta yang diucapkan Patrik, gayung bersambut. Bulan termakan bujut rayu, mengiyakan ketika pada Sabtu (11/6), Pukul 13.00 WITA Patrik kembali mengajak dirinya berjumpa dan mengelilingi Kota Tepian.

Lelah memutari Kota Tepian, tepat Pukul 20.00 WITA, gadis manis polos ini meminta untuk diantarkan pulang.

Namun patrik yang mengaku karyawan BUMN di Kota Bontang ini justru mengajak Bulan untuk singgah sejenak ke indekos miliknya yang hanya Berjarak 250 meter dari indekos Bulan.

“Katanya mau ngobrol aja. Tapi pas saya bilang enggak mau, maunya pulang, dia malah langsung kunci pintu,” terang Bulan dengan sesekali meneteskan air mata, Senin (20/2/2022) kemarin.

Merasa curiga dengan tingkah laku Patrik, membuat mahasiswi semester 3 tersebut berupaya melarikan diri.

Apa daya, dengan postur tubuh tinggi membuat Patrik dengan mudah menghalau langkah Bulan.

“Saya terus berontak tapi malah ditampar dan didorong,” ucapnya.

Dalam keadaan tidak berdaya membuat Bulan hanya bisa pasrah dan menangis saat Patrik merenggut mahkota kesucian dirinya.

Bahkan, semenjak kejadian malam itu, setiap hari bagaikan terbelenggu api neraka bagi Bulan, sebab Patrik terus menerus memintanya untuk memuaskan hasrat bejatnya berhubungan layaknya suami istri.

Baca juga  Political Marketing dan Bedah Dapil, PPP Perkuat Teritori

“Saya berkali-kali mau minta tolong sama teman saya. Tapi selalu ketahuan. Kalau sudah gitu, pasti saya dipukul,” bebernya.

Hari-hari terlewati bagai menjadi budak nafsu membuat Bulan nyaris depresi. Hingga akhirnya terkuak juga bahwa Patrik hanyalah pemuda pengangguran yang tinggal di Samarinda dan hanya bermodalkan tampang saja untuk merayu wanita.

“Makan saja pakai uang yang ada di rekening saya. Karena saya dapat beasiswa prestasi,” sebutnya.

Uangpun habis memenuhi kebutuhan makan, Patrik akhirnya menjual beberapa perhiasan yang dikenakan Bulan di tubuhnya.

Terus merasakan berbagai derita, akhirnya Rabu (15/6/2022) lalu tepat Pukul 08.47 WITA Bulan seakan mendapatkan angin segar karena dapat menyelamatkan diri dari belenggu sang pemuda yang menjadikan dirinya sebagai budak nafsu.

“Kurang lebih 30 kali, karena sehari dia bisa 5-6 kali menyalurkan nafsu bejatnya,” ungkap Bulan.

Di mana, kala itu Patrik sedang membasuh tubuh, dan lupa membawa handphone milik Bulan.

Tak ingin kehilangan kesempatan, Bulan langsung menghubungi seorang sahabatnya untuk meminta pertolongan.

Setelah berhasil mengirimkan lokasi tempatnya disekap, Bulan kembali menonaktifkan smartphone miliknya itu.

Hingga berita ini dirilis, Bulan telah mendapatkan perlindungan, pendampingan serta terafi mental oleh Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak Kalimantan Timur, serta Patrik telah dioroses secara hukum yang berlaku. (Psg/adl)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Share Berita

Berita Terkait

Ikuti Berita ProKaltim.com dari Media Sosial


Kaltim News

Pendaftaran Kolomnis Kaltimsiana