PROKALTIM.COM – Laporan resmi terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap bahwa persoalan pengangguran di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah, di mana hingga periode survei tahun 2025 tercatat sekitar 7,46 juta orang belum memiliki pekerjaan dengan angka Tingkat Pengangguran Terbuka berada di level 4,85 persen.
Meskipun terjadi sedikit penurunan dibanding tahun sebelumnya namun struktur pengangguran menunjukkan pola yang belum banyak berubah, yakni dominasi kelompok usia muda dan lulusan pendidikan menengah.
Hasil pendataan melalui Sakernas BPS memperlihatkan bahwa pengangguran tertinggi berada pada rentang usia 15 hingga 24 tahun yang merupakan fase transisi dari dunia sekolah ke dunia kerja, bahkan untuk kelompok usia 15–19 tahun tingkat penganggurannya menembus lebih dari 20 persen, sedangkan dari sisi pendidikan, lulusan SMA dan SMK menempati posisi paling tinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.
Fakta ini mempertegas bahwa sistem pendidikan vokasi dan kejuruan di Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam menyiapkan sumber daya manusia yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri modern.
Sementara itu pertumbuhan lapangan kerja baru belum sebanding dengan jumlah angkatan kerja yang terus meningkat setiap tahunnya, kondisi ini juga diperparah oleh perubahan kebutuhan dunia kerja yang semakin mengarah pada digitalisasi dan otomasi, sehingga banyak pencari kerja yang tidak memiliki keterampilan relevan akhirnya sulit terserap.
Pemerintah pusat maupun daerah termasuk di Kalimantan Timur didorong untuk memperbanyak program peningkatan kompetensi, magang industri, serta pelatihan berbasis kebutuhan pasar agar angka pengangguran dapat ditekan lebih cepat.
Sektor usaha mikro kecil dan menengah juga dinilai perlu mendapat dukungan lebih kuat karena terbukti menjadi penyangga utama penyerapan tenaga kerja.
BPS menegaskan bahwa data ini harus menjadi dasar evaluasi kebijakan ketenagakerjaan agar ke depan tercipta strategi yang lebih tepat sasaran dalam membuka peluang kerja baru dan mengurangi ketimpangan antara pencari kerja dan ketersediaan lapangan pekerjaan.







Be First to Comment