Praktik Pemalsuan Meterai Rugikan Negara Rp 37 M

BALIKPAPAN, PROKALTIM – Direktorat Jenderal Pajak (DJP) bekerja sama dengan Polda Metro Jaya dan Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) mengungkap praktik
pemalsuan meterai. Tindakan pelanggaran hukum ini menimbulkan potensi kerugian
pendapatan negara sebesar Rp 37 miliar.

Direktur Penyuluhan, Pelayanan,
dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak, Neilmaldrin Noor mengatakan bahwa Kementerian Keuangan, dalam hal ini DJP memberikan apresiasi tinggi kepada Kepolisian Republik Indonesia dan Perum Peruri atas kerja samanya mengungkap dugaan tindak pidana pemalsuan meterai. Bea meterai merupakan pajak atas dokumen yang merupakan salah satu sumber penerimaan negara untuk membiayai pembangunan dan penyelenggaraan negara.

“Pemalsuan meterai merupakan tindakan yang merugikan keuangan negara sekaligus seluruh masyarakat Indonesia,”
tandasnya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Polisi Yusri Yunus mengungkapkan, modus yang digunakan para tersangka adalah mencetak dan menjual meterai palsu nominal enam ribu dan sepuluh ribu. Berdasarkan barang bukti yang ditemukan Polresta Bandara Soekarno-Hatta, potensi kerugian negara diperikirakan sebesar Rp 12,5 miliar.

Baca juga  Wali Kota Balikpapan Akan Ajak Partai Pengusung Bahas Calon Wawali Balikpapan

“Kelompok tersangka yang terdiri dari enam orang ini telah melakukan kegiatan pemalsuan meterai sejak tiga setengah tahun yang lalu. Jika diakumulasikan, maka
potensi kerugian negara bisa mencapai sekitar Rp 37 miliar,” ungkapnya.

Atas kejahatan tersebut, tersangka diancam dengan pasal berlapis, yakni tidak pidana pemalsuan benda meterai dan tindak pidana pencucian uang. Berdasarkan pasal 24 dan 25 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2020 tentang Bea Meterai, tersangka diancam pidana
penjara paling lama tujuh tahun dan pidana denda paling banyak Rp 500 juta.

“Di
samping itu, sanksi bagi pelaku tindak pidana pencucian uang adalah hukuman penjara paling lama dua puluh tahun dengan denda paling banyak Rp 10 miliar,” lanjutnya.

Oleh karena itu, masyarakat perlu mengetahui ciri meterai asli melalui tiga indikator. Direktur Operasi Peruri, Saiful Bahri menyatakan bahwa meterai asli dapat diketahui dengan dilihat, diraba, dan digoyang. Jika dilihat, meterai asli memiliki tiga bentuk perforasi (lubang) yakni bulat, oval, dan bintang. Teknologi cetak dari Peruri juga menjadikan angka enam ribu dan sepuluh ribu pada meterai terasa kasar jika diraba.

Baca juga  Spesialis Pencurian di 17 TKP Diringkus

“Saat meterai digoyang akan terjadi color shifting
(perubahan warna),” jelasnya.

Terkait dengan dokumen yang menggunakan meterai palsu, berdasarkan PMK-04/2021,
salah satu syarat keabsahan pembayaran bea meterai adalah menggunakan meterai tempel yang sah, berlaku, dan belum pernah digunakan. Dengan demikian, apabila dokumen dibubuhi oleh meterai palsu, maka pembayaran bea meterai tidak sah dan dokumen dianggap tidak dibubuhi meterai.

Masyarakat dapat melakukan pemeteraian kemudian terhadap dokumen yang sudah terlanjur dibubuhi meterai yang tidak sah.
DJP mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada akan meterai tempel palsu dan meterai tempel bekas pakai atau rekondisi. Masyarakat diimbau untuk meneliti kualitas dan memperoleh
meterai tempel dari penjual yang terpercaya.
(dah)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Kaltim News


Pendaftaran Kolomnis Kaltimsiana