Ekspor CPO Diproyeksi Meningkat, Percepat Pemulihan Ekonomi Kaltim

NET

BALIKPAPAN,PROKALTIM – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim memproyeksikan produk crude palm oil (CPO) menjadi komoditas ekspor yang tinggi pada semester II 2021. Kenaikan harga secara global mendorong nilai ekspor nonmigas di Kalimantan Timur (Kaltim) meningkat sejak triwulan IV semester II 2020.

Dikatakan Kepala KPw BI Kaltim, Tutuk SH Cahyono bahwa
dengan pangsa mayoritas, kenaikan harga komoditas ini mempercepat pemulihan ekonomi Kaltim. Ekspor Kaltim sejak 2007-2008 didominasi oleh barang mentah dan less manufactured. Kelapa sawit merupakan komoditas yang mencetak peranan dalam perekonomian Indonesia sejak lama.

“Pangsa ekspor nonmigas Kaltim pada triwulan IV 2020 didominasi oleh batu bara sebesar 74,49 persen, disusul CPO 16,56 persen, bahan kimia anorganik 2,26 persen, pupuk 3,18 persen, dan lainnya 3,50 persen,” jelasnya.

Baca juga  Difin Ditemukan, Korban Tenggelam Karang Mumus

Sementara itu, Ketua Gabungan Kelapa Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Joko Supriyono mengatakan, suatu sektor dikatakan ekonomi ekstraktif jika kegiatannya hanya mengambil apa yang tersedia di alam seperti pertambangan. Sedangkan perkebunan kelapa sawit merupakan ekonomi nonekstraktif, mengingat produksi CPO diperoleh dengan membudidayakan kelapa sawit.

“Ada pula pengolahan lebih lanjut, dengan menggunakan manajemen dan ilmu pengetahuan atau teknologi modern,” ujarnya.

Peningkatan produksi CPO, lanjutnya, bersumber dari kombinasi peningkatan luas areal dan peningkatan produktivitas minyak per hektare. Produksi kelapa swait di Indonesia pun mengalami peningkatan tiap tahunnya.

“Selama periode 1970-1990, kontribusi produktivitas CPO Indonesia terhadap kebutuhan dunia masih sekitar 39 persen. Lalu dalam periode 1991-2000, produksi tersebut meningkat menjadi 44 persen. Selanjutnya, periode 2001-2016, kontribusi CPO terhadap kebutuhan global mencapai 45 persen,” ungkap dia.

Baca juga  Kota Balikpapan Catatkan Inflasi 0,16 Persen pada Maret, Kenaikan Harga Komoditas Makanan Jadi Faktor Pendorong

Produktivitas tersebut diharapkan akan semakin besar dan menjadi sumber pertumbuhan produksi minyak sawit nasional. Pertumbuhan produksi CPO yang disebabkan oleh peningkatan produktivitas lebih sustainable dibandingkan dari perluasan areal.

“Saat acara 100 tahun perkebunan sawit Indonesia tahun 2011, telah disepakati untuk mencapai produktivitas jangka panjang, yakni 35 ton TBS per hektare dengan rendemen 26 persen atau setara dengan sekitar 9 ton minyak per hektare,” tutupnya. (dah)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Kaltim News


Pendaftaran Kolomnis Kaltimsiana