PPKM dan Informasi Seputar Covid-19, Terdampak pada Dua Segmen Masyarakat Ini

BALIKPAPAN,PROKALTIM – Terkait dengan informasi dan berita yang menyebar dikalangan masyarakat Kota Balikpapan, ada beberapa pemikiran yang berbeda dari biasanya dengan meminta pemerintah kota (Pemkot) Balikpapan mengurangi publikasi info dan berita tentang seputar kasus positif dan kematian pasien Covid-19 di Kota Balikpapan yang dinilai menimbulkan kepanikan tersendiri di masyarakat.

Ketua Badan Pembina Yayasan Pendidikan Tinggi (Yapenti) Dharma Wirawan Kalimantan Timur, Universitas Balikpapan, Rendi Susiswo Ismail mengatakan, dari aspek dampak Covid-19 terhadap perekonomian, tentu dampaknya ada positif atau negatif, ada yang menguntungkan dan tidak menguntungkan.

“Kita melihat apa Covid-19 itu menggeneralisir bahwa ini sangat berpengaruh terhadap perekonomian nasional lah khususnya yang negatif,” kata Rendi Susiswo Ismail, kepada Prokaltim.com.

Dia juga menyampaikan, kalau untuk pegawai negeri misalnya karyawan yang punya gaji tetap tidak ada persoalan tambah untung mereka. Kalau selama ini misalkan work from home (WFH) atau kerja di rumah, yang biasanya harus makan di luar, sementara gaji, tunjangan dan sebagainya tidak dikurangi oleh perusahaan maupun pemerintah.

“Ini berpengaruh terhadap sektor ekonomi yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pokok mereka, bisa dibuktikan mereka sekarang bisnis online jadi dan bisnis antar-jemput jalan. Karena, saya lihat satu hari di rumah di komplek saya wira-wiri ojek online (Ojol) tinggi sekali, artinya justru ada komunitas bagian dari masyarakat ya alhamdulillah dalam suasana Covid tidak berpengaruh dampaknya,” ucapnya.

Tapi, tambahnya, bagi kelompok masyarakat yang usahanya tidak tetap ini yang jadi persoalan, seperti pedagang offline atau konvensional yang barangkali karena pengetahuan dan pengalaman tentang teknologi digital tidak juga begitu bagus. Itu biasanya dagangan seperti biasa, jualan di pinggir jalan, kemudian dia dituntut untuk berkreasi misalnya, bagaimana memasarkan atau mendagangkan dagangannya lewat online kan tidak punya pengetahuan tentang itu, tapi kalau yang kreatif cepat.

Baca juga  Proses Mukota XI Dianggap Rancu, Kadin Tegaskan Sudah Transparan

“Saya punya tetangga itu yang tadinya punya Cafe. Seperti beberapa cafe anak muda yang kreatif ya kalau memang selama ini pelanggannya banyak dia cepat, ya melihat situasi seperti ini dia buka online. Ternyata orderan juga tetap, saya tanya bisnis kopinya tidak berpengaruh adanya pandemi Covid, dia tetap saja di mana pelanggan-pelanggannya yang tiap malam nongkrong itu tetap saja membeli dan meningkat saja ordernya,” terangnya.

Yang konvensional itu yang mengalami situasi sulit yang mengharapkan orang. Salah satunya, dia jualan di Lapangan Merdeka atau dia jualan di mana, buka warung di mana saja dan berpengaruh terhadap dagangannya.

“Intinya, jadi kita lihat segmennya, ke segmen masyarakat mana yang terdampak dan segmen masyarakat mana yang tidak berpengaruh,” ungkapnya.

Jadi secara umum, lanjutnya, kita melihat memang perekonomian masyarakat terdampak, tapi segmennya harus kita lihat secara proporsional.

Sementara itu dia juga menjelaskan, secara ekonomi Pemkot Balikpapan melalui Wali Kotanya sangat luar biasa perhatiannya, mereka yang terdampak, misalnya warga isolasi mandiri (Isoman), alhamdulillah disiapkan dapur umum.

Tapi dapur umum tidak sepenuhnya ditangani penuh oleh Pemkot, sebaiknya separuh anggaran untuk dapur umum itu diberdayakan buat warung-warung masyarakat yang menyiapkan makanan selama ini, mungkin ada kayak warung Tegal atau yang berada dipinggir jalan coba diberdayakan hubungi mereka inventarisir perkecamatan kan bisa, didekat kantor Kecamatan yang jualan di pinggir jalan yang tulisan macam-macam datangi itu tiap hari dia suruh menyiapkan makanan bagi yang isoman.

Baca juga  Konsumsi Listrik Naik 146 TWh, Sinyal Ekonomi RI Mulai Bangkit

“Datanya berdasarkan data dari yang terinformasikan isoman, baik isoman di hotel atau isoman yang di rumah , alhamdulillah menangani Covid-19 dengan baik karena sudah sampai melibatkan tingkat RT artinya deteksi dini terhadap Covid itu sudah terdeteksi di lingkungan paling kecil,” jelasnya.

Lanjutnya, selain itu ada di RT-RT, ini dioptimalkan diberdayakan tidak saja memantau siapa warganya yang terpapar tapi juga potensi yang bisa menjadi pendukung untuk mengatasi persoalan itu misalnya secara ekonomi.

“Salah satunya ada warung-warung di situ di Kompleks RT itu, mungkin ada yang jualan nasi. Nah itu di optimalkan, RTnya mengidentifikasi inventaris dan laporkan ke Pemkot,” cetusnya.

Kalau semuanya itu bisa terpetakan, dapur umum terhadap situasi-situasi yang memang luar biasa yang masyarakat tidak bisa menangani misalnya. Tapi dipikir kalau kemudian dioptimalkan peran RT sangat bisa.

“Kenapa mereka. Karena juga nanti sekarang harus menggerakkan sejumlah orang untuk mendistribusikan, itu resiko tinggi, petugas datangin rumah-rumah yang kena Covid, itu kan cuma bawa ambulans nya dikasih bunyi dampaknya psikologis dikira padahal mau ngantar nasi atau caranya mau jemput, kan repot,” pungkasnya. (to)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Kaltim News


Pendaftaran Kolomnis Kaltimsiana