Tertimpa Kren Tulang Belakang Remuk, 10 Malam bermalam di Pelataran Mesjid RSUD AW Syahranie

SAMARINDA,PROKALTIM – Nasib nahas menimpa Joko Pitono (52) yang sehari- hari bekerja sebagai buruh bangunan, pria kelahiran Banyuwangi Jawa Timur ini kondisinya sakit, malangnya hal ini terjadi saat dirinya telah usai melakukan pekerjaan di sebuah proyek renovasi rumah, dan kini harus bermalam di masjid area RSUD AW Syahranie Samarinda untuk melakukan pengobatan kekurangan finansial dan berjuang dalam proses penyembuhan.

Kejadian mengenaskan tersebut terjadi di daerah Loa Hui, Loa Janan Ilir, Rabu (30/3/2022) silam, tepat Pukul 16.30 WITA, saat itu dirinya mengerjakan proyek renovasi rumah seorang diri, bersamaan dengan itu ada proyek pembangunan bangsalan yang tak jauh dari pekerjaanya, karena kontur tanah yang gembur dan rawa mengharuskan tim proyek bangsalan menggunakan alat kren guna memancang tiang ulin.

“Jadi sudah sama-sama jam pulang, mereka (proyek bangsalan) ingin memindahkan alat kren tersebut saat di jalan yang menanjak alat tersebut tidak kuat menanjak dan tidak seimbang lalu menjatuhi tubuh saya,” ungkapnya saat ditemui di teras Masjid As- Syifaa’ullinnas lingkungan RSUD AW Sjahranie,Rabu (3/8/2022) sore tadi.

Baca juga  Operasi Cetar, Percepatan Vaksinasi Antar Jemput Oleh Polsek

Saat kejadian tersebut dirinya mengaku masih dalam keadaan sadar, namun dirinya tak mampu berbuat apapun. “Yang saya rasakan itu tulang belakang ini remuk, pikiran saya alat yang lewat tadi jatuhin saya, ternyata benar,” lanjut Joko.

Selanjutnya, dirinya di bantu beberapa pekerja dan tetangga untuk mendapatkan pertolongan ke RSUD IA Moies Samarinda. “Itu perut saya menggembung hingga diameter 94 centimeter dan saya dalam keadaan sadar,” serunya.

Melihat kondisi Joko Pitono yang parah akhirnya pihak rumah sakit merujuk Joko menuju RSUD AW Sjahrani untuk dapat tindakan medis. “Sempat dirawat semalam di Moies, tulang belakang saya patah, kaki kanan patah tiga,sebagian usus saya harus dibuang dan BAB lewat alat,” sebutnya.

Joko Pitono yang tidak memiliki jaminan kesehatan atau BPJS mengharuskan dirinya membayar biaya sebesar Rp. 80 juta. “Itu biaya operasi usus, perut dan kaki kanan, sudah habis segitu, dan kami hutang dengan jaminan KTP dan kartu keluarga,”

Baca juga  Mengaku Wartawan, Dengan Alasan Tutup Berita, Peras Lansia Hingga Rp 15 Juta

Empat bulan telah berlalu, kini perjuangan Joko belum usai kini dirinya harus menanggung beban biaya keperluan sehari-hari dan cicilan di rumah sakit. “Saat ini tinggal kontrol saja, sembari menunggu tindakan operasi tulang ekor dan pengembalian fungsi usus besar, Alhamdulillah BPJS saya sudah aktif,” beber Joko.

Terhitung telah sepuluh malam sudah, Joko yang ditemani istri dan anak tercintanya menginap di pelataran masjid. “Kendala biaya dan juga waktu, saya juga takut bolak balik rumah ke rumah sakit,” keluhnya.

Berharap jika sudah sembuh total nantinya, dirinya rindu keluarga dikampung halaman. Hingga berita ini diturunkan berbagai pihak telah berdatangan memastikan kondisi joko saat ini. (Psg/adl)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Share Berita

Berita Terkait

Ikuti Berita ProKaltim.com dari Media Sosial


Kaltim News

Pendaftaran Kolomnis Kaltimsiana