H Sasa, Muliakan Orangtua dan Sedekah. Titik Balik Hidup, Sekarang Hobi Berbagi, Rp 4 M dalam Dua Bulan

SAMARINDA,PROKALTIM- Ini bukan soal garis tangan atau kerja keras, bukan juga soal pendidikan tinggi menjadi syarat kesuksesan, lulusan SMP, kerja kuli bangunan bergaji Rp 35 ribu, tapi kini bisa habiskan Rp 50 juta – Rp 80 juta sehari untuk berbagi, ini cerita suksesnya.

Rumah besar berkelir biru itu menjadi pertemuan antara Haji Suriansyah atau lebih dikenal Haji Sasa dengan tim redaksi Prokaltim.com, jajaran foto keluarga menghiasi ruang tamu.

H. Sasa, Menunjukan foto keluarga yang terpajang di dinding, sebelum kepergian ibunda tercinta kepangkuan Allah SWT. (Foto: Samudra)

“Itu ibu saya waktu di Yogyakarta (sambil menunjuk foto di dinding), uang saya hanya cukup untuk beli tiket pesawat saat itu karena kerjaan lagi kurang bagus, dan ibu saya juga minta membawa keluarga yang lain, jadi totalnya ada 20 orang, niat saya cuma satu, membahagiakan ibu saya, entah bagaimana ada saja rejeki lebih, tidak masuk akal sebenarnya, Alhamdulillah bisa membahagiakan ibu saya dan ini momen sebelum ibu saya meninggal,” kenangnya.

Haji Sasa viral di berbagai media sosial, saat PPKM Level 4 diberlakukan yang berefek kepada pendapatan masyarakat menurun drastis disitu pula dirinya turun tangan, memborong habis dagangan sepanjang jalan yang ia lewati, lebih dari 50 dagangan.

Baik dari penjual maupun masyarakat sekitar terbantu dengan hal ini, dimasa ekonomi yang tak menentu, PHK dimana-mana, daya beli yang menurun.

“Saya melakukan ini niatnya cuma satu, membahagiakan almarhum kedua orangtua saya, setiap sedekah saya niatkan untuk beliau (orang tua), ada hal yang tak tergambarkan saat membantu orang lain, ada kepuasaan tersendiri,” ungkapnya.

Bayangkan dengan kekuatan finansial yang dimilikinya ada fakta yang terungkap, Haji Sasa tidak memiliki mobil pribadi, ia mengatakan lebih baik uang pembelian mobil dipakai untuk bersedekah daripada untuk gaya-gayaan.

Baca juga  Sudah Ada Di Samarinda, King Burger Opening Terapkan Prokes

“Mobil yang sering saya pakai itu punya karyawan saya, punya kantor saya, saya gak mau beli mobil, mending uangnya dibagikan ke orang tidak mampu,” ucapnya.

Bukan baru-baru ini saja pria kelahiran 47 tahun silam ini berbagi, bedanya dulu saat berbagi dirinya tak pernah mau muncul ke publik, mau itu santunan anak yatim, pembangunan rumah singgah lansia dan orang terlantar, bedah rumah, pembuatan mesjid dirinya bergeming tidak muncul, takut ada perasaan riya yang muncul.

Namun semua itu berubah saat bertemu dengan Habib Ahmad Alhabsy, sedekah diam diam itu baik, namun untuk mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan ini, kenapa tidak dipublikasikan. “Muncul saja di publik, ini dapat menginspirasi orang melakukan kebaikan yang sama,” tuturnya.

“Sangat berbeda sekali saat saya melakukannya diam-diam, rejeki semakin deras saat saya muncul, mungkin ada yang melihat apa yang saya lakukan, lalu tergerak melakukan juga, ini ajakan kebaikan, sehingga para pengusaha di Kaltim juga ikut membantu masyarakat,” ucap Haji Sasa sambil menyilakan media ini untuk menikmati secangkir teh yang disajikan.

Kelamnya Masa Lalu, Dari Percobaan Bunuh Diri Sampai Lepas Dari Judi Dan Hingar Bingar Klub Malam

Terbersit dipikiran untuk menyudahi hidupnya, menumpuknya hutang yang tidak sebanding dengan pendapatan membuatnya hampir hilang akal, namun sesaat ingin terjun bunuh diri dari ketinggian disebuah hotel ada pikiran lain yang menghalangi, membuatnya mengurungkan itu semua.

“Ya kalau mati langsung, kalau setengah mati setengah hidup, tetap juga tidak selesai masalah hutang ini,” jelasnya.

Berbulan-bulan lamanya ia luntang-lantung tidak jelas, tidur tak beralas dimana saja yang ia temui, sampai momen itu datang.

Baca juga  Perlu Kesadaran Dini, Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia.

Seseorang mendekatinya, “Kenapa murung, punya masalah? Masih ada orang tua? Pulang! Minta ampun, cuci kakinya” ucap orang tersebut.

“Mungkin itu malaikat yang dikirim untuk saya sebagai hidayah, saat itu juga saya langsung ke ibu saya, saya minta ampun, minta doakan, saya basuh kakinya, beliau keheranan, saya ini anak paling nakal, judi maksiat, dunia malam, tahu-tahu saya melakukan itu, bingung ibu saya saat itu,” lanjutnya.

Dari situ semua berubah, hobi judinya, dunia malam dan maksiat lain total berhenti berubah menjadi memuliakan orang tua dan sedekah, setahun setelah mencuci kaki ibu dan ampun, Haji Sasa mendapatkan Rp 10 Milyar pertamanya dan pengahasilannya sampai saat ini berkisar diangka tersebut.

Kehidupan berubah, hal itu menjadi titik balik hidupnya, yang awalnya kelam menjadi cerah penuh berkah, ia kini memiliki 4 tambang batu bara, 1 tambang emas yang menunggu penggarapan seluas 14 ribu hektar serta usaha properti diberbagai tempat.

“Kedepannya saya ingin sekali berbagi keseluruh negeri ini, kalau bisa seluruh dunia menyampaikan titipan ini, ingin sedekah tidak hanya di Samarinda, sekali lagi saya sampaikan muliakan orang tua, bahagiakan, ajak makan, belikan sesuatu,” pungkasnya.

Ibarat pintu yang tertutup rapat, lanjutnya, yang didalamnya memiliki semua yang berharga didunia ini, kunci untuk membuka ada di orang tua, itu kunci suksesnya.

“Lakukan 1 kebaikan 1 hari, jadi bermanfaat untuk orang banyak, berbakti dan muliakan orang tua itu yang terpenting, tidak usah jauh jauh mencari berkah, keberkahan itu ada di orang tua kita,” tutupnya.

Penulis : Pandhu Samudra
Editor : Redaksi/adl

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Kaltim News


Pendaftaran Kolomnis Kaltimsiana