Optimis! Pelaku EKraf Bangkit dari Pandemi

Dialog Produktif bertema “Industri Kreatif Melawan Hantaman Pandemi” yang digelar Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Selasa (15/12)

Jakarta ― Telah berjalan 9 bulan tiada kegiatan dan penghasilan dari profesi Ekonomi kreatif membuat semua pelaku event dan seni pada masa pandemi Covid-19. Karena Karena kegiatan yang menimbulkan kerumuman dan penonton dalam jumlah besar, dihentikan.

“Termasuk Pekerja film seperti saya dan teman-teman sejak Maret memang tidak boleh melakukan aktivitas pembuatan film. Baru saat mulai memasuki masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi, pekerja film mulai berproduksi dalam protokol yang sangat ketat” ungkap sutradara film Lola Amaria dalam Dialog Produktif bertema “Industri Kreatif Melawan Hantaman Pandemi” yang digelar Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Selasa (15/12).

Selain Lola, hadir dalam acara tersebut Prabu Revolusi, Juru Bicara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan Hanung Bramantyo, sutradara film.

Diungkapkan Lola, dalam situasi pandemi seperti sekarang ini adaptasi pelaku seni dan ekonomi kreatif dengan dunia digital tak bisa dielakkan.

“Bioskop bukan satu-satunya media untuk berkarya bagi pembuat film saat ini. Menurut saya ada banyak sekali ide di masa pandemi misalnya tentang hoaks, tentang vaksin, apapun yang berkaitan dengan pandemi yang bisa diproduksi sebagai film edukasi. Platform tidak harus bioskop, bisa televisi, bisa digital, karena mengedukasi masyarakat itu penting,” lanjutnya.

Baca juga  Persemaian Mentawir Bentuk Keseriusan Pemerintah Menata Lingkungan

Juru Bicara Kemenparekraf Prabu Revolusi menyebutkan, pemerintah melalui Kemenparekraf terus berupaya membuat industri pariwisata dan ekonomi kreatif bisa bertahan melewati pandemi. Langkah itu mulai dari kampanye, pelatihan, membuka akses antara pelaku ekonomi kreatif dengan over-the-top (OTT), hingga memberikan stimulus ekonomi seperti Bantuan Hibah Pariwisata dan bantuan insentif pemerintah yang telah diluncurkan tahun ini.

“Perhatian Kemenparekraf saat ini adalah memastikan semua pelaku industri memahami protokol kesehatan. Saat vaksin nanti sudah bisa diakses masyarakat, ini akan memberikan wajah baru bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Efeknya bisa berdampak kepada hotel yang bisa kembali beroperasi, restoran kembali hidup, bioskop kembali buka, dan kegiatan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) juga bisa kembali dijalankan,” terangnya.

Baca juga  Indonesia Tutup Akses Masuk WNA

Ia menyebutkan bahwa kondisi ini menuntut pelaku ekonomi kreatif untuk adaptif dan melakukan transformasi digital.

“Menurut data kami, pelaku yang adaptif dan melakukan transformasi digital bisa bertahan sampai saat ini, namun tidak semuanya mampu seperti itu. Kemenparekraf pun menjalankan program inkubasi untuk pembuat film dengan memberikan insentif agar lebih memahami platform digital dan penulisan skenario yang lebih adaptif dengan kondisi pandemi,” tambahnya.

Ia mengungkapkan di saat pandemi, kehadiran pemerintah sangat dibutuhkan oleh pelaku ekonomi kreatif. “Di 2021 ada beberapa program yang sedang disiapkan. Setidaknya program ini nantinya bisa membantu teman-teman pelaku ekonomi kreatif bisa tetap berkarya,” ujar Prabu Revolusi.

Harapan terhadap vaksin Covid-19 turut disampaikan Lola Amaria. “Mudah-mudahan vaksin cepat terdistribusi dengan baik dan semua sektor sudah bisa kembali seperti semula sebelum pandemi,” katanya. (met/chow)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Kaltim News


Pendaftaran Kolomnis Kaltimsiana