Hangat Bersama Rasidi dari Perantau, Profesi Peternak Ayam dan Abdi Negara

SAMARINDA, PROKALTIM- Matanya nanar seraya mengingat perjalanan lintas pulau 38 tahun silam, bercerita awal perjalanan dari peternak sampai jadi polisi, ialah Rasidi, kelahiran Ngawi 57 tahun silam.

“Saya ingat itu Agustus 1983, merantau dari Jawa ke Kalimantan, mencari peruntungan di rantau,” ujarnya.

Kota Samarinda menjadi tujuannya, desa bernama Rimbawan, Samarinda Utara menjadi goresan awal sejarah hidupnya di Tanah Borneo, bekerja disebuah peternakan ayam jadi pilihan, 3 bulan bergelut dengan peternakan ayam siapa sangka garis tangan mendorongnya ke pintu pengabdian sebagai anggota POLRI.

“Ada saudara sepupu saya yang kebetulan anggota TNI AD, mendatangi saya di tempat kerja (kandang ayam) memberikan informasi penting yaitu penerimaan calon Tamtama Polri, saat itu hanya ada 2 pilihan yakni Brigadir Mobil (Brimob) dan Airud. Saat itu saya belum punya kelengkapan surat-surat pendukung mulai dari SKCK, Akte Kelahiran serta berkas pendukung lainya,” Ungkapnya.

Setelah melengkapi berkas-berkasnya, Rasidi pun mendaftarkan diri dan mengikuti seleksi sebagai anggota Polri di Polda Kalimantan Timur dan dinyatakan lulus, jumlah peserta 100 orang, selanjutnya 100 orang tersebut di kirim ke Polda Sulawesi Utara untuk di godok di Dodiktlat Karumbasan, menjalani pendidikan pembentukan Tamtama Polri selama 6 bulan dan dinyatakan lulus pada 1 Juli 1984 kemudian dirinya beserta 100 orang lainya mendapatkan atau bertugas kembali di Polda Kalimantan Timur.

“Setelah melengkapi berkas, daftar dan ikuti seleksi, lulus dan langsung dikirim ke Polda Sultra untuk mengikuti pendidikan selama 6 bulan dan selanjutnya lulus pada 1 Juli 1984, kembali bertugas di Polda Kaltim bersama 100 orang lainya, ” Ucapnya.

Baca juga  Dadi Mulya Berduka, Lurah Dimakamkan Protokol Covid-19

Setelah berada di Polda Kalimantan Timur dirinya dan 100 orang lainya mendapatkan tempat tugas di seluruh Polres yang tersebar diwilayah hukum Polda Kaltim. Rasidi mendapat kesempatan untuk mulai berdinas di Polres Bontang yang kebetulan merupakan Polres yang baru terbentuk di awal tahun 1983. Dan dirinya tergabung di kesatuan Shabara.

Rasidi mengabdikan diri di kesatuan Shabara Polres Bontang selama 2 tahun, selanjutnya pada Tahun 1986 dirinya harus menjaga perbatasan yaitu di Pos Pol Bengalon Kutai Timur, saat itu akses perjalanan darat belum bisa ditembus hanya jalur Sungailah satu-satunya akses menuju kedaerah Bengalon menggunakan Kapal Domping yang sangat memakan waktu perjalanan hingga kurang lebih 12 jam.

Menghabiskan waktu hingga setahun melaksanakan pengabdian di wilayah perbatasan, sekitar Tahun 1987 dirinya pun harus berpindah tugas lagi ke Polsek Bontang hingga tahun 1988, selanjutnya dirinya berpindah tugas kembali ke Pospol Sengata hingga awal tahun 1989.

“1992 nikah, setelah setahun diberi kepercayaan oleh yang maha kuasa (anak) laki-laki, disusul 3 tahun kemudian anak perempuan,”

Pada pertengahan tahun 1999 dirinya turut dimutasi ke Polsek Anggana Kabupaten Kutai saat itu dan masih di dalam wilayah hukum Polres Bontang. Tahun 2003 peralihan wilayah hukum yaitu Polsek Anggana yang sebelumnya masuk wilayah hukum Polres Bontang dan berubah dibawah wilayah hukum Polres Kutai Kartanegara. Dan diberikan pilihan oleh pimpinan saat itu untuk memilih tempat dinas dan dirinya memilih menetap di Polsek anggana.

Baca juga  Terjun Bersama Motor ke Sungai Mahakam, Pria Tanpa Identitas Belum Ditemukan

“1999 dapat mutasi ke Polsek Anggana, setalah itu ada peralihan wilayah hukum dari Polres Bontang ke Polres Kukar, pimpinan berikan pilihan berdinas saat itu, saya pilih Polsek Anggana,”

Hingga tahun 2015 Rasidi mendapatkan kesepakatan untuk ikut Sekolah alih golongan di SPN Polda Kaltim.

“Alhamdulillah tahun 2015 dapat kesempatan untuk Sekolah Alih Golongan (SAG) di SPN Polda Kaltim,” ungkapnya.

Setalah menjalani pendidikan alih golongan, pada tahun 2016 dirinya ditugaskan di Polresta Samarinda dengan pangkat Inspektur Polisi Dua (IPDA).

“2016 ditugaskan di Polresta Samarinda dengan pangkat IPDA,”

Tantangan terberat yang penah dihadapi saat bertugas di Korps Bhayangkara ialah pengungkapan kasus 338 atau pembunuhan dan saat itu yang menjadi korbanya ialah tak lain temannya sendiri.

“Kasus yang pernah dan paling berat saya rasa yaitu melakukan pengungkapan kasus pembunuhan yang saat itu korbannya adakah teman saya sendiri,”

Hingga akhir tugasnya IPTU Rasidi menjabat sebagai PS Kanit Sat Shabara Polsek Samarinda Kota.

IPTU Rasidi juga berpesan kepada rekan-rekannya yang masih bertugas di Korps Bhayangkara untuk dapat selalu menjaga kekompakan, semangat gotong-royong, jangan pantang menyerah demi keutuhan NKRI.

Penulis : Psamudra
Editor : Redaksi/adl

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Kaltim News


Pendaftaran Kolomnis Kaltimsiana