Search
Search
Close this search box.

Menelusuri Jejak Rumah Panjang Suku Dayak dan Kehidupan di Apau Kayan

Rumah panjang suku Dayak tempo dulu. (Foto : Chary Wijayanti)

Oleh : Chary Wijayanti

Ini adalah kisah perjalanan penulis Chary Wijayanti saat mulanya berada di Desa Budaya Pampang atau Kampung Dayak. Biasanya ngobrol santai dengan para sesepuh suku Dayak. Mereka sering bercerita saat mereka tinggal di Apau Kayan, dulunya tinggal di rumah panjang.

Warga semua dahulu tinggal di rumah panjang. Rumah panjang itu ukurannya mencapai puluhan meter dan ada juga lebih seratus meter. Dalam satu rumah panjang terdapat banyak kamar. Setiap kamar mampu dihuni beberapa kepala keluarga. Jika rumah panjang terdiri dari 20 kamar maka bisa dibayangkan berapa kepala keluarga yg tinggal dirumah panjang itu.

Terus bertanya ke para sesepuh, kenapa di Pampang tidak dibangun rumah panjang?

Kata mereka, tinggal di rumah panjang itu sebenarnya nyaman, ramai, kekeluargaannya kental. Namun yang jadi masalah adalah kalau terjadi kebakaran semuanya bisa habis terbakar. Maka dari itu kami ingin tinggal dirumah tunggal. Karena selain ingin hidup lebih tenang, kami tidak khawatir lagi soal kebakaran.

Karena rasa penasaran yang kuat akan kehidupan suku Dayak di Apau Kayan, maka saya mengatur rencana untuk pergi ke Apau Kayan. Dan akhirnya ada kesempatan untuk pergi ke Apau Kayan. Tapi untuk terbang kesana, harus pergi ke Malinau dulu.

Baca juga  LBMK mengunjungi Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud : Saran Saya Agar Sekretariat PB LBMK Berada di Samarinda

Dari Malinau penerbangan ke Long Ampong dengan menggunakan pesawat kecil. Di Apau Kayan ada dua bandara kecil. Di Kampung Long Ampong dan Kampung Long Nawang.

Transportasi untuk kesana, hanya tersedia pesawat kecil. Tidak tersedia lagi transportasi lainnya.

 

Akhirnya setelah kurang lebih satu jam melayang di udara, pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Long Ampong. Pemandangan dari udara sungguh luar biasa indah. Hutan tropis yang relatif masih terjaga dengan baik menghampar hijau. Rasanya bahagia sekali memandangnya.

Apau Kayan adalah daerah perbatasan antara Indonesia dan Serawak, Malaysia Timur. Saat melakukan perjalanan ini, Apau Kayan masih menjadi bagian dari Kalimantan Timur pada tahun 2005.

Kampung pertama yang didatangi di Apau Kayan adalah Kampung Long Ampong. Disini menginap di rumah Kepala Desa yang kebetulan tempat tinggalnya di Lamin Adat. Kampung yang unik dengan jembatan gantung dan lumbung- lumbung padi yang unik khas Suku Dayak. Arus sungainya berlimpah, deras, jernih dan dingin sekali. Keramahan penduduknya pun membuat hati betah berlama-lama.

Dari Kampung Long Ampong, lalu menuju Kampung Long Uro, Long Nawang, Nawang Baru, Long Payau dan Long Betaoh.

Saat itu belum tersedia transportasi darat. Setiap pindah Kampung menggunakan Longboat (perahu panjang khusus jeram). Karena terdapat banyak jeram-jeram kecil yg harus dilewati. Selebihnya jalan kaki yang cukup melelahkan. Berjam-jam jalan kaki dengan menyusuri jalan menanjak dan menurun. Maklum, Apau Kayan daerah dataran tinggi 500 MDPL.

Baca juga  Pemkab Kukar dan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Imbau Masyarakat yang Ikut Prosesi Belimbur

Memandang setiap Kampung Suku Dayak Kenyah yang didatangi, penuh rasa yang mengharu biru. Nggak membayangkan akhirnya bisa datang kesini.

Faktanya memang hampir tidak ada lagi rumah panjang. Semua warga sudah tinggal dirumah masing-masing.

Tapi saya masih beruntung masih melihat rumah panjang yang dihuni puluhan kepala keluarga di Kampung Nawang Baru.

Menemui mereka saat rumah panjang ramai kembali setelah penduduk pulang Ibadah di hari Minggu. Bersyukur mereka antusias bercerita tentang kehidupan sehari-hari warga.

Dan dari kisah dan cerita penduduk, akhirnya mengetahui mengapa umumnya penduduk tidak mau lagi tinggal di rumah panjang. Sama seperti cerita para sesepuh di Desa Pampang. Faktor kebakaran dan kenyamanan. Tapi yang paling utama kenapa rumah panjang itu tidak bertahan lama?

Karena di Apau Kayan tidak ditemukan lagi bahan kayu ulin atau kayu keras lainnya. Kayu disana paling lama bertahan 20 atau 30 tahun saja.

Agar Tidak Ketinggalan Informasi Terbaru
Ikuti Berita Kami di Google News, Klik Disini

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top

PROKALTIM GROUP

Kategori Berita
Daerah

Pendaftaran Kolomnis Kaltimsiana

[gravityform id="3" title="false" description="false" ajax="true"]